Minggu, 30 Maret 2014

Bel Untuk Pulang

Rasa sakit, penderitaan, dukacita adalah bel suci yang menunjukkan bahwa jiwa hidup terlalu jauh dari rumah. Bel ini juga yang memberikan tanda di mana rumah sesungguhnya berada. Banyak orang yang mencarinya di tempat suci atau orang suci. Sehebat-hebatnya tempat suci dan orang suci, keduanya hanya bisa memberi tahu tentang ajaran suci yang mesti dibadankan.
Tatkala ajaran suci seperti cinta kasih, kebaikan, kasih sayang dilaksanakan secara mendalam, kemudian ada kilatan cahaya tentang rumahnya jiwa. Tandanya sederhana, semakin dekat jiwa dengan rumah sesungguhnya, semakin damai rasanya di dalam. Semakin dekat jiwa dari rumah, semakin banyak bunga cinta yang mekar di dalam. Semakin dekat jiwa dari rumah, semakin tidak tertarik seseorang untuk mengejar ke luar.
Bliss
Salah satu ajaran mendalam tentang pulangnya jiwa adalah Tantra. Dan simbol sakral yang kerap dipakai di Tantra adalah seks. Meminjam hasil penelitian sejumlah psikolog yang mendalami seks seperti Delgado, orgasme sebagai puncak pengalaman seksual adalah serangkaian pengalaman yang sepenuhnya ada di dalam. Persisnya, ia terjadi di pusat seks di otak. Bagi wanita, ia terjadi di belahan otak kanan, bagi pria ia terjadi di otak kiri.
Ini menjadi salah satu bukti ilmiah tentang kebahagiaan, sukacita yang sesungguhnya ada di dalam. Di tingkat kebahagiaan, orgasme berarti terpenuhinya sebagian keinginan, atau di tingkatan kebahagiaan lebih dalam ia berarti rasa berkecukupan yang mendalam. Di tingkat sukacita, orgasme adalah kilatan cahaya tentang rumahnya jiwa. Kapan saja unsur maskulin dan feminin menyatu di satu jiwa di sana kilatan cahaya muncul. Di Yunani disebut anima-animus, di China disebut Yin-Yang, di Bali disebut lingga-yoni.
Dan bliss (anandam), ia berada jauh di atas keinginan, ia bukan sekadar kilatan cahaya, tapi sang Cahaya itu sendiri. Bila di tingkatan kebahagiaan yang mengalami orgasme adalah pusat seks di otak, di tingkatan sukacita orgasme hanya kilatan cahaya petunjuk jalan pulang, di tingkatan bliss yang mengalami orgasme adalah Sang Saksi. Ia bukan di otak kanan, bukan di otak kiri. Sang Saksi berada melampaui ruang dan waktu. Ia tidak bisa dijelaskan, tapi ia bisa dialami. Dalam bahasa puitis, ia tersedia di sini di saat ini. Meminjam Lao Tzu: “ia yang mengerti tidak bicara, ia yang bicara tidak mengerti”. Selamat datang di rumah jiwa-jiwa yang indah.

Gede  Prama

Melenyapkan ego menjadi pelayan

Tidak banyak manusia yang sembuh dari permusuhan dengan diri sendiri, kemudian hidup utuh dengan cara melayani orang lain. Bunda Teresa adalah salah satu jiwa langka. Tatkala ditanya tentang intisari hidupnya, beliau hanya menjawab ringkas tapi padat: “saya hanya pensil di tangan Tuhan”. Mahatma Gandhi adalah jiwa langka yang lain. Di depan muridnya kerap beliau berpesan: “cara tercepat untuk menemukan diri sendiri adalah melenyapkan diri dalam pelayan pada orang lain”.

Gede Prama